Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Bertanding untuk Bersanding 4.0

Senin, 01 Juni 2026 | Juni 01, 2026 WIB Last Updated 2026-06-01T03:53:47Z

 

Sepuluh hari lagi. 10 Juni 2026.

Munas HIPMI 2026 akan digelar. Empat calon sudah siap. Barisan sudah terbentuk. Diskusi makin keras. Suhu makin panas.

Begitulah setiap kontestasi. Ia selalu melahirkan energi. Dan energi itu, hampir selalu, berdinamika.

Tapi ada yang lebih penting dari kemenangan. Ada yang lebih berharga dari jabatan. Dan itu bukan soal siapa yang terpilih, melainkan soal bagaimana kita bertanding.

Saya jadi teringat kisah Buya Hamka.

Ia dipenjara oleh Presiden Soekarno. Bukan sehari dua hari. Bertahun-tahun. Namun di balik jeruji besi itu, ia justru bersyukur. Katanya: ada waktu untuk menyelesaikan tafsir 30 juz.

Luar biasa.

Tapi yang lebih luar biasa lagi, ketika Soekarno menjelang wafat, beliau berwasiat. Ia ingin Buya Hamka yang menjadi imam shalat jenazahnya. Buya Hamka pun memenuhinya. Tanpa dendam. Tanpa syarat. Ia memimpin doa untuk orang yang pernah memenjarakannya.

Itulah kebesaran jiwa.

Bangsa ini tidak dibangun oleh orang-orang yang selalu sepakat. Ia dibangun oleh mereka yang tetap saling menghormati meski berbeda.

Ada juga Mohammad Natsir.

Karena Petisi 50-nya, ia dicekam Orde Baru. Geraknya dibatasi. Namanya dijauhkan dari panggung kekuasaan. Tapi M. Natsir tidak berhenti. Setiap Idul Fitri, ia tetap bersilaturahmi ke Cendana, rumah Presiden Soeharto, meski tak selalu disambut dengan layak.

Ia tetap datang.

Dan lebih dari itu, ia tetap berkontribusi untuk negeri. Membuka jalan investasi. Memperkuat kepercayaan dunia terhadap Indonesia. Bukan karena ia setuju dengan penguasa. Tapi karena ia mencintai bangsanya lebih dari egonya.

Bukan kelemahan itu. Justru di sana letak kekuatan sejatinya.

Kembali ke HIPMI.

Empat calon yang akan bertanding hari-hari ini bukan orang luar. Mereka kader. Mereka saudara. Mereka tumbuh dari tanah yang sama, ditempa oleh nilai yang sama, dan dipersatukan oleh tujuan yang sama pula.

Karena itu, mereka tidak sedang bertarung untuk saling meniadakan.

*“Mereka bertanding untuk bersanding.”*

Tapi saya ingin bicara hal lain sebentar.

Hal yang lebih besar dari sekadar siapa yang menang Munas.

Indonesia hari ini sedang tidak baik-baik saja. Angka pengangguran anak muda menyentuh belasan juta jiwa. PHK melanda sektor manufaktur. Daya beli masyarakat tergerus. Rupiah bergolak. Investasi asing masuk, tapi lapangan kerja yang tercipta tidak sebanding. Kita sedang menghadapi ancaman deindustrialisasi dini: negara yang belum kaya, tapi industrinya sudah menyusut.

Siapa yang harus menjawab tantangan itu?

Bukan hanya pemerintah. Bukan hanya birokrat. Justru pengusaha muda, mereka yang duduk di ruang Munas yang paling dekat dengan jawaban itu. HIPMI bukan organisasi seremonial. Ia adalah kawah candradimuka wirausaha bangsa. Dari sinilah seharusnya lahir para pencipta lapangan kerja, bukan pencari kerja. Dari sinilah seharusnya muncul solusi bukan sekadar keluhan.

Dunia juga sedang berubah cepat, terlalu cepat.

Kecerdasan buatan (AI) menggerus pekerjaan lama. Ekonomi digital tumbuh pesat, tapi yang menikmatinya masih segelintir. UMKM kita, 64 juta usaha kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi. masih banyak yang berjuang sendirian. Mereka butuh ekosistem. Butuh mentor. Butuh jaringan. Dan HIPMI, dengan ribuan anggotanya yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, punya modal untuk menjadi ekosistem itu.

Bayangkan jika setiap anggota HIPMI membina satu UMKM di daerahnya.

Bayangkan jika jaringan HIPMI dipakai sungguh-sungguh untuk membuka akses pasar, akses modal, dan akses teknologi bagi pengusaha kecil yang belum punya suara.

Itu bukan mimpi. Itu pilihan. Dan pilihan itu dimulai dari siapa yang duduk di kursi ketua umum dan lebih penting lagi, bagaimana ia menjalankan amanah itu bersama semua pihak yang hari ini berbeda pilihan.

Ada satu lagi yang mengganjal pikiran saya.

Bonus demografi. Kita sering menyebutnya sebagai peluang emas. 2030 disebut-sebut sebagai puncaknya. Tapi peluang itu bisa menjadi bencana jika tidak dikelola. Generasi muda yang banyak, tanpa lapangan kerja, tanpa keahlian, tanpa semangat wirausaha itu bukan aset. Itu bom waktu.

HIPMI ada tepat di titik kritis itu.

Ketua umum yang terpilih nanti akan memimpin organisasi ini di masa paling menentukan dalam sejarah ekonomi Indonesia. Bukan masa yang mudah. Tapi justru karena tidak mudah, ia menjadi sangat bermakna. *Pemimpin yang lahir dari Munas ini harus lebih dari sekadar figur organisasi, ia harus menjadi lokomotif, penggerak, dan jembatan antara semangat anak muda dan kebutuhan nyata bangsa.*

Maka tak ada ruang untuk pemimpin yang lahir dari perpecahan. Tak ada tempat untuk ketua umum yang menang dengan cara melukai. Karena luka di dalam tubuh HIPMI akan melemahkan justru di saat bangsa ini paling butuh HIPMI yang kuat.

Ini yang perlu kita jaga bersama.

Persahabatan di HIPMI tidak boleh berakhir di ruang sidang. Persaudaraan tidak boleh putus di meja pemilihan. Yang kita bangun di sini bukan sekadar jaringan kepentingan, melainkan jaringan kepercayaan. Itu jauh lebih berharga.

Hari ini kita boleh berbeda pilihan.

Tapi besok dan seterusnya kita harus tetap bisa duduk semeja. Menatap arah yang sama. Bekerja untuk tujuan yang jauh lebih besar dari diri kita masing-masing.

Jangan sampai Munas ini melampaui batas kepatutan. Jangan sampai perbedaan berubah menjadi luka. Tidak ada kemenangan yang pantas dirayakan jika dibayar dengan retaknya persaudaraan.

Tidak ada.

Yang akan dikenang bukan hanya siapa yang menang.

Yang akan dikenang adalah bagaimana kita saling menjaga.

HIPMI adalah rumah kita bersama. Bukan milik satu kubu. Bukan milik satu calon. Ia milik semua yang menang maupun yang kalah, yang bertanding maupun yang mendukung.

Maka mari jaga satu hal sederhana ini.

Bertanding untuk bersanding. Setelah semua usai, kita kembali sebagai kawan, bahkan sebagai saudara untuk selamanya.

*HIPMI untuk semua.*

Ahad, 31 Mei 2026.

*) M. Ali Affandi LNM, Dewan Kehormatan BPD HIPMI Jawa Timur

Editor : Iwan Iwe

Bertanding untuk Bersanding 4.0

×
Berita Terbaru Update