Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa
(PBB), Antonio Guterres, memperingatkan bahwa PBB sedang menghadapi krisis
keuangan yang serius. Dalam sebuah surat yang dikirimkan kepada negara-negara
anggota pada Jumat (30/1/2026), Guterres mengungkapkan bahwa organisasi dunia
ini berisiko kehabisan dana operasional pada Juli 2026 jika kewajiban keuangan
negara-negara anggota tidak dipenuhi segera.
"PBB berada di ambang krisis keuangan yang
mengkhawatirkan. Jika tidak ada tindakan cepat, kami mungkin tidak dapat
melanjutkan banyak program yang sudah berjalan," kata Guterres dalam surat
tersebut. Dia menekankan bahwa dana operasional untuk kegiatan PBB sangat
bergantung pada kontribusi negara anggota, dan tanpa adanya dana yang cukup,
organisasi ini akan kesulitan menjalankan misinya di seluruh dunia.
Guterres juga mengingatkan bahwa utang yang
belum dibayar oleh beberapa negara anggota terus membebani anggaran PBB, yang
sudah mengalami defisit kronis dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi ini
semakin memperburuk tantangan yang dihadapi oleh organisasi internasional
tersebut dalam memenuhi mandatnya, termasuk misi perdamaian, pembangunan
berkelanjutan, serta penyelesaian masalah kemanusiaan global.
Peringatan ini datang di tengah meningkatnya
ketegangan dalam diplomasi global dan meningkatnya beban tanggung jawab yang
harus ditanggung oleh PBB dalam menghadapi krisis di berbagai belahan dunia.
Guterres menyerukan agar negara-negara anggota segera memenuhi kewajiban
finansial mereka agar PBB tetap dapat beroperasi secara efektif.
Sampai saat ini, sejumlah negara anggota masih
menunggak pembayaran kontribusinya, yang semakin memperburuk situasi keuangan
PBB. Guterres berharap peringatan ini dapat mendorong negara-negara tersebut
untuk segera menyelesaikan pembayaran, demi menjaga keberlanjutan tugas penting
yang diemban PBB.
Sebagai organisasi yang memiliki peran kunci
dalam berbagai masalah global, mulai dari perdamaian dan keamanan hingga hak
asasi manusia dan pembangunan ekonomi, PBB menghadapi tantangan besar dalam
menghadapi ancaman krisis keuangan ini. Jika situasi ini tidak segera
ditangani, dampaknya bisa sangat luas, mempengaruhi misi PBB di berbagai negara
dan merugikan upaya-upaya kemanusiaan di seluruh dunia.
