PROBOLINGGO - Jumlah korban meninggal dunia akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Bromo kembali bertambah. Suraji, petugas keamanan (sekuriti) Hotel Artotel asal Desa Lumbang, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, meninggal dunia pada Jumat (23/10/2026) siang.
Suraji meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif selama sembilan hari di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Jenazah langsung dibawa pulang ke rumah duka di Probolinggo.
Dengan meninggalnya Suraji, total korban jiwa akibat karhutla Bromo bertambah menjadi enam orang. Sebelumnya, Munawi, Masyarakat Mitra Polhut, salah satu korban luka bakar dalam peristiwa tersebut, juga meninggal dunia setelah menjalani perawatan di RSUD Dr. Soetomo.
Direktur RSUD Tongas, dr. Catur Prangga Wadhana, menjelaskan, para korban mengalami luka bakar serius dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Sebagian besar mengalami luka bakar lebih dari 50 persen pada tubuh mereka.
Baca Juga : Karhutla Kembali Muncul di Perbukitan Bromo, Kapolsek Panjat Tebing 75 Derajat untuk Padamkan Api
Menurut Catur, luka bakar yang luas, ditambah gangguan pada saluran pernapasan, membuat kondisi korban sangat rentan mengalami komplikasi selama menjalani perawatan.
“Rata-rata mengalami luka bakar di seluruh tubuh. Lebih dari 50 persen, dan yang berat juga pada saluran napas. Pada akhirnya, kondisi seperti ini berisiko menyebabkan kegagalan multiorgan,” jelas Catur.
Ia menerangkan, penanganan pasien dengan luka bakar berat membutuhkan perawatan intensif dan pemantauan kondisi secara berkelanjutan. Kondisi pasien dapat berubah meskipun sebelumnya sempat menunjukkan perkembangan yang lebih baik.
Baca Juga : Wagub Emil Dardak Sampaikan Duka Cita, Korban Karhutla Bromo Bertambah Jadi Lima Orang
Salah satu korban, lanjut Catur, sempat menjalani operasi cangkok kulit. Namun, kondisinya tidak stabil sehingga harus mendapatkan perawatan di ruang intensif atau intensive care unit (ICU).
Sementara itu, Munawi sempat dinilai memiliki kondisi yang lebih stabil dibandingkan pasien lainnya. Namun, kondisinya kemudian memburuk hingga akhirnya meninggal dunia.
“Kalau Pak Munawi, dikatakan lebih stabil. Namun, akhirnya justru Pak Munawi yang meninggal lebih dahulu,” ungkapnya.
Baca Juga : Kawasan Bromo Terbakar, Wisatawan Tetap Bisa Menikmati Pesona dari Ketinggian
Catur menambahkan, luasnya luka bakar dan gangguan pada saluran pernapasan menjadi faktor yang dapat memperberat kondisi pasien. Komplikasi tersebut berisiko memengaruhi fungsi sejumlah organ tubuh.
Atas meninggalnya Suraji, Catur menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban. Ia juga berharap keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dalam menghadapi musibah tersebut.
“Kami sebagai Direktur RSUD Tongas, mewakili seluruh civitas hospitalia, menyampaikan permohonan maaf dan belasungkawa sedalam-dalamnya atas wafatnya Tuan Suraji, salah satu korban kebakaran di Bromo,” ujarnya.
Baca Juga : Gubernur Jatim Tinjau Karhutla Bromo, Helikopter Water Bombing Empat Kali Siram Titik Api
Ia berharap almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran.
“Mudah-mudahan amal ibadah beliau diterima oleh Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran atas musibah yang diterima. Kami juga berharap kejadian serupa tidak terulang kembali,” pungkasnya.
Peristiwa karhutla di kawasan Gunung Bromo tersebut tidak hanya mengakibatkan korban meninggal dunia, tetapi juga menyebabkan sejumlah korban mengalami luka bakar berat. Insiden ini menjadi pengingat pentingnya keselamatan dalam upaya penanganan kebakaran di kawasan rawan karhutla. (*)
Editor : M Fakhrurrozi
