Fakta baru terungkap dalam kasus meninggalnya seorang siswa sekolah dasar di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Korban bernama Yohanes Bastian Roja (10) diketahui sempat meminta orang tuanya mencairkan dana Program Indonesia Pintar (PIP) untuk membeli kebutuhan sekolah, namun permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Bupati Ngada, Raymundus Bena, mengungkapkan
temuan tersebut berdasarkan hasil penelusuran tim yang diturunkan langsung ke
lapangan untuk mendalami peristiwa tragis yang menimpa korban. Menurut
Raymundus, Yohanes kerap menyampaikan keinginannya agar dana PIP dicairkan guna
membeli buku dan alat tulis sekolah.
“Dari hasil pendalaman tim di lapangan,
korban beberapa kali meminta ibunya mencairkan dana PIP karena membutuhkan buku
dan pena untuk sekolah. Namun permintaan itu belum bisa dipenuhi karena
keluarga tidak memiliki uang,” kata Raymundus kepada wartawan.
Keterbatasan ekonomi keluarga menjadi latar
belakang utama dalam peristiwa tersebut. Sang ibu, lanjut Raymundus, bukan
tidak ingin memenuhi kebutuhan anaknya, melainkan terkendala kondisi keuangan
yang sangat terbatas. Situasi ini memperlihatkan bagaimana tekanan ekonomi
dapat berdampak serius terhadap kehidupan anak-anak, khususnya di wilayah
dengan tingkat kemiskinan yang masih tinggi.
Peristiwa ini memicu keprihatinan luas dari
masyarakat dan pemerhati perlindungan anak. Banyak pihak menilai kasus ini
sebagai cerminan persoalan akses bantuan pendidikan yang belum sepenuhnya
menjangkau kelompok paling rentan. Program Indonesia Pintar yang dirancang
untuk mencegah anak putus sekolah dinilai perlu dievaluasi, terutama dari sisi
kemudahan pencairan dan pendampingan bagi keluarga penerima manfaat.
Pemerintah Kabupaten Ngada menyatakan akan
melakukan evaluasi terhadap mekanisme pendataan dan penyaluran bantuan
pendidikan, termasuk PIP, agar kejadian serupa tidak terulang. Selain itu, pendampingan
psikososial terhadap keluarga korban juga akan dilakukan.
Tragedi yang menimpa Yohanes menjadi
pengingat bahwa persoalan kemiskinan, pendidikan, dan perlindungan anak saling
berkaitan erat. Di balik angka penerima bantuan dan laporan program, terdapat
realitas kehidupan anak-anak yang membutuhkan kehadiran negara secara nyata dan
tepat sasaran.
