Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Anak SD YBR Tewas di NTT, Kemiskinan dan Abainya Negara Disorot

Jumat, 06 Februari 2026 | Februari 06, 2026 WIB Last Updated 2026-02-06T02:25:26Z


Kematian seorang anak sekolah dasar berinisial YBR di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengguncang nurani publik. Peristiwa ini bukan sekadar duka bagi satu keluarga, melainkan potret nyata rapuhnya perlindungan negara terhadap warga paling rentan, terutama anak-anak yang hidup di tengah kemiskinan struktural.

YBR mengembuskan napas terakhirnya dalam kondisi yang memprihatinkan. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa korban hidup dalam keterbatasan ekonomi ekstrem, dengan akses minim terhadap layanan kesehatan dan perlindungan sosial yang layak. Tragedi ini segera memantik gelombang keprihatinan dan kemarahan publik, terutama di media sosial, yang mempertanyakan kehadiran negara di wilayah-wilayah tertinggal.

Kecamatan Jerebuu merupakan salah satu wilayah dengan tantangan geografis dan sosial yang berat. Akses jalan terbatas, fasilitas kesehatan yang jauh, serta kondisi ekonomi masyarakat yang sebagian besar bergantung pada sektor subsisten membuat anak-anak di wilayah ini berada dalam situasi rentan sejak lahir. Dalam konteks ini, kematian YBR dinilai sebagai konsekuensi dari persoalan sistemik yang telah berlangsung lama.

Berbagai kalangan menilai tragedi ini mencerminkan kemiskinan struktural yang belum tertangani secara menyeluruh. Bantuan sosial yang tidak tepat sasaran, lemahnya pendataan warga miskin, hingga terbatasnya layanan dasar seperti kesehatan dan gizi menjadi faktor yang terus berulang dalam kasus-kasus serupa di NTT.

Pengamat kebijakan publik menilai bahwa kematian YBR seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah pusat maupun daerah. Negara, menurut mereka, tidak cukup hadir hanya melalui program di atas kertas, tetapi harus memastikan bahwa setiap anak Indonesia, tanpa terkecuali, mendapatkan hak dasar untuk hidup, tumbuh, dan berkembang secara layak.

“Ketika seorang anak meninggal karena kemiskinan dan keterbatasan akses, maka yang gagal bukan hanya keluarga, melainkan sistem perlindungan sosial secara keseluruhan,” ujar salah satu pegiat kemanusiaan yang aktif di wilayah NTT.

Hingga kini, publik menanti langkah konkret dari pemerintah daerah dan kementerian terkait, mulai dari investigasi menyeluruh atas kasus ini hingga evaluasi serius terhadap program perlindungan anak dan pengentasan kemiskinan di daerah tertinggal. Transparansi dan akuntabilitas dinilai penting agar tragedi serupa tidak kembali terulang.

Kematian YBR menjadi pengingat pahit bahwa di balik angka-angka statistik kemiskinan, terdapat nyawa manusia—anak-anak—yang seharusnya menjadi tanggung jawab bersama. Tragedi ini tidak boleh berhenti sebagai berita duka semata, melainkan harus menjadi titik balik bagi hadirnya negara secara nyata di tengah masyarakat yang selama ini terpinggirkan.

 

×
Berita Terbaru Update