Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Kemenkes Ungkap 9 dari 10 Warga Depresi Belum Terjangkau Medis: Cek 5 Temuan Penting Kesehatan Gratis

Selasa, 20 Oktober 2026 | Oktober 20, 2026 WIB Last Updated 2026-10-20T10:07:27Z

 

JAKARTA - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia mengungkapkan fakta memprihatinkan bahwa sembilan dari sepuluh penyandang depresi di Indonesia belum terjangkau oleh layanan medis profesional. Temuan ini diperoleh dari hasil evaluasi program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah menjangkau 71,86 juta penduduk untuk skrining kesehatan jiwa dan 34 juta peserta pemeriksaan mata hingga pertengahan Oktober 2026. Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, dr. Maria Endang Sumiwi, memaparkan di Jakarta bahwa dari sekitar 3 juta warga berusia di atas 15 tahun yang teridentifikasi mengalami depresi, baru 12,7 persen yang telah memperoleh penanganan medis secara berkala. Rendahnya angka jangkauan ini dipicu oleh kuatnya stigma sosial di tengah masyarakat serta keterbatasan akses ke fasilitas psikoterapi.

Program CKG yang diselenggarakan oleh pemerintah bertujuan mendeteksi dini berbagai gangguan kesehatan fisik dan mental secara masif di tingkat fasilitas pelayanan kesehatan primer. Kendati fasilitas pemeriksaan telah dibuka secara meluas melalui jaringan Puskesmas dan posyandu, kesenjangan antara jumlah warga yang terindikasi gangguan jiwa dan jumlah pasien yang berobat secara medis masih sangat lebar.

Guna memperjelas peta permasalahan dan upaya penanganan kesehatan masyarakat nasional, berikut adalah lima temuan penting dari laporan Kemenkes pada Oktober 2026

1.     Angka Depresi Remaja Empat Kali Lipat Lansia dan Kerentanan Ibu Hamil

Skrining kesehatan jiwa terhadap warga berusia di atas 7 tahun menunjukkan bahwa indikasi gejala depresi tertinggi ditemukan pada kelompok ibu hamil dan ibu nifas, yakni mencapai 7,1 persen. Kategori rentan berikutnya berada pada kelompok anak sekolah dan remaja dengan persentase 2,3 persen atau mencakup lebih dari 380 ribu anak. Tingkat kecemasan pada kelompok remaja ini bahkan tercatat empat kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok lansia. Kemenkes juga mencatat sebanyak 2.365 warga masih mengalami praktik pemasungan hingga triwulan ketiga tahun 2026 akibat gangguan jiwa berat dan stigma sosial.

2.     Pemeriksaan Mata Gratis Jangkau 34 Juta Warga

Di samping kesehatan mental, Kemenkes memperkuat deteksi dini kesehatan fisik melalui pemeriksaan mata gratis yang telah diikuti oleh 34 juta warga hingga Oktober 2026. Program ini difokuskan pada deteksi dini gangguan pembiasan cahaya (refraksi) pada anak usia sekolah serta penyakit katarak pada lansia. Intervensi ini dilakukan agar penurunan fungsi penglihatan dapat ditangani secara cepat sehingga tidak mengganggu produktivitas belajar anak maupun kualitas hidup warga lanjut usia.

3.     Fenomena Doctor Shopping dan Risiko Depresi Anak Neurodivergent

Kemenkes menyoroti keterkaitan erat antara keterlambatan deteksi anak dengan kondisi keanekaragaman saraf (neurodivergent), seperti ADHD dan disleksia, terhadap timbulnya depresi berat pada usia remaja. Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes, dr. Imran Pambudi, mengungkap adanya fenomena penolakan (denial) orang tua yang melakukan doctor shopping atau berpindah-pindah dokter demi mencari pembenaran bahwa anaknya tidak menyandang kondisi khusus tersebut. Konsultan Neurologi Anak FK Unpad/RSHS, dr. Purboyo Solek, menegaskan pentingnya penerimaan sejak dini bagi anak disleksia. "Anak disleksia memiliki tingkat kecerdasan normal. Tanpa penyesuaian di sekolah dan dukungan keluarga sejak dini, mereka sangat rentan menjadi korban perundungan yang berujung pada kecemasan kronis dan depresi berat," ujar dr. Purboyo Solek.

4.     Aktivasi 6.549 Puskesmas Ramah Jiwa dan Layanan Healing119.id

Untuk menutup celah penanganan medis yang belum menjangkau 87,3 persen penderita depresi, pemerintah telah mengaktifkan layanan kesehatan jiwa di 6.549 Puskesmas atau sekitar 64 persen dari total Puskesmas di seluruh Indonesia. Selain itu, pemerintah menyiapkan 932 Puskesmas yang ramah bagi penyandang disabilitas. Ketua Divisi Psikiatri Komunitas FKUI/RSCM, dr. Hervita Diatri, menekankan bahwa pemerataan layanan ini membantah anggapan bahwa konseling jiwa hanya bisa diakses warga mampu di kota besar. Kemenkes juga menyediakan fasilitas bantuan darurat melalui platform Healing119.id yang dapat diakses secara gratis via saluran telepon dan pesan singkat, di mana layanan ini telah dimanfaatkan oleh 284.916 pengguna.

5.     Alur Rujukan Medis Gratis Melalui SATUSEHAT

 Masyarakat yang mengikuti program CKG dan terdeteksi memiliki gejala gangguan penglihatan maupun kecemasan mental dapat langsung mengecek hasilnya melalui aplikasi SATUSEHAT. Rujukan digital dari aplikasi tersebut dapat dibawa ke Puskesmas terdekat untuk memperoleh pemeriksaan lanjutan, tindakan medis, serta konseling klinis dari tenaga kesehatan. Jika membutuhkan penanganan lebih spesifik, pasien akan dirujuk ke rumah sakit rujukan BPJS Kesehatan tanpa dikenakan biaya tambahan.

Transformasi layanan kesehatan primer yang dijalankan pemerintah pada tahun 2026 membuktikan bahwa program deteksi dini CKG harus diimbangi dengan penghapusan stigma kesehatan mental di lingkungan masyarakat. Dukungan keluarga dan kesadaran untuk berkonsultasi ke fasilitas kesehatan menjadi kunci utama penanganan depresi secara dini.

Pemerintah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas pemeriksaan gratis di Puskesmas dan posyandu terdekat. Dengan terbukanya akses medis serta dukungan lingkungan sosial yang empati, penyandang depresi dapat memperoleh penanganan yang layak demi mewujudkan masyarakat Indonesia yang sehat secara fisik dan mental.

Penulis : Cahya Hafid Abdillah 

Editor : Iwan Iwe

×
Berita Terbaru Update