LUMAJANG - Percobaan yang terbilang ekstrem berhasil dilakukan seorang petani, Herman, 45 tahun, warga Desa Karanglo, Kecamatan Kunir, Lumajang. Ia menggabungkan dua komoditas, tembakau dan cabai, dalam satu lahan persawahan seluas 3.000 meter persegi.
Kedua komoditas tersebut tumbuh subur. Padahal, secara teori, penanaman cabai dan tembakau secara berdekatan memiliki risiko lebih tinggi terserang hama dan penyakit yang sama, mengingat keduanya berasal dari keluarga Solanaceae atau suku terung-terungan.
Namun, di tangan Herman, anggapan tersebut berhasil ditepis. Langkah tersebut dilakukan untuk menguji kemanjuran pupuk organik cair yang ia kembangkan bersama sejumlah petani tembakau lainnya. Hasilnya, pupuk tersebut dinilai mampu memberikan hasil yang baik.
Atas keberhasilan Herman, Ketua Asosiasi Petani Tembakau Indonesia atau APTI Lumajang berharap para petani lainnya dapat lebih masif menggunakan pupuk organik dan mulai mengurangi penggunaan pupuk kimia, terlebih melalui dukungan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau.
Para petani juga telah beberapa kali mengikuti sekolah lapang untuk meningkatkan pemahaman mengenai pembuatan dan penggunaan pupuk organik yang baik dan benar.
Dari keberhasilan tersebut, Herman mampu meraup keuntungan hingga puluhan juta rupiah, baik dari hasil tembakau maupun cabai yang ditanam secara bersamaan.
Editor : JTV Jember