Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Lahir dari Keluarga Pas-Pasan, Nadiya Calon Dokter Gigi Tembus Lulusan Terbaik UNEJ

Sabtu, 07 Februari 2026 | Februari 07, 2026 WIB Last Updated 2026-02-07T04:29:50Z

 


Upacara Wisuda Periode VIII Tahun Akademik 2024/2025 Universitas Jember (UNEJ), Sabtu (7/2/2026), bukan hanya menjadi momen perayaan akademik, tetapi juga ruang bagi kisah-kisah perjuangan yang penuh makna. Salah satu kisah inspiratif datang dari Nadiya Ayu Sekar Kinari, lulusan Program Studi Pendidikan Dokter Gigi Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) UNEJ.

Nadiya berhasil menyelesaikan studinya dengan capaian akademik gemilang dan tercatat sebagai salah satu lulusan dengan IPK tertinggi pada periode wisuda kali ini. Namun, di balik prestasi tersebut, tersimpan perjalanan panjang yang sarat pengorbanan, terutama dari kedua orang tuanya.

Sebagai mahasiswa kedokteran gigi, Nadiya harus menghadapi tuntutan akademik yang tinggi serta kebutuhan alat praktik dengan biaya yang tidak sedikit. Kondisi ekonomi keluarga yang terbatas sempat menjadi tantangan tersendiri. Orang tua Nadiya bekerja sebagai pegawai swasta dengan penghasilan yang harus dibagi untuk membiayai pendidikan empat orang anak, dua di antaranya masih duduk di bangku sekolah dasar.

Pada masa studinya, keluarga Nadiya masih tinggal di rumah kontrakan di Kota Bandung dengan biaya sewa yang terus meningkat setiap tahun. Di tengah tekanan ekonomi tersebut, kedua orang tuanya tetap berupaya memenuhi seluruh kebutuhan pendidikan anak-anaknya tanpa pernah mengeluh.

Tak hanya soal finansial, jarak juga menjadi ujian tersendiri bagi keluarga ini. Ayah Nadiya harus menempuh perjalanan puluhan kilometer setiap hari untuk bekerja, sementara sang ibu kerap menjalani tugas ke luar kota bahkan luar pulau, seperti Papua, Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera. Akibatnya, kebersamaan keluarga sering kali hanya dapat dirasakan sekali dalam sepekan.

Meski demikian, keterbatasan itu tidak pernah mengurangi dukungan orang tua terhadap pendidikan Nadiya. Justru, kondisi tersebut menjadi sumber motivasi terbesarnya untuk terus bertahan dan berprestasi.

“Sebagai anak pertama, saya paham betul bagaimana beratnya orang tua membiayai empat anak yang semuanya masih sekolah. Tapi mereka selalu menegaskan agar kami tidak memikirkan soal biaya pendidikan. Mereka bilang, urusan sekolah pasti akan diusahakan,” ujar Nadiya.

Ia mengakui, ada kalanya rasa bersalah dan dilema emosional muncul, terutama saat harus meminta biaya untuk kebutuhan kuliah yang tidak murah. Namun, sikap orang tua yang selalu menenangkan dan memberi keyakinan membuatnya bertekad untuk membalas pengorbanan tersebut dengan hasil terbaik.

Selain fokus pada akademik, Nadiya juga aktif mengembangkan diri melalui berbagai organisasi kemahasiswaan. Ia tercatat pernah menjadi bagian dari BEM FKG, UKM Lisma, Insisivus, serta pengurus nasional Persatuan Senat Mahasiswa Kedokteran Gigi Indonesia (PSMKGI) periode 2022–2024. Baginya, pengalaman berorganisasi menjadi sarana pembelajaran yang melengkapi pendidikan formal di bangku kuliah.

Menutup perjalanannya sebagai mahasiswa, Nadiya menyampaikan pesan bagi mahasiswa yang masih berjuang menyelesaikan studi. Ia mengajak untuk tidak mudah menyerah dalam menghadapi keterbatasan apa pun.

“Tidak semua hal berjalan sesuai rencana, tapi setiap usaha yang kita lakukan pasti punya arti. Apa pun hasilnya, itu adalah yang terbaik yang Tuhan berikan. Jangan berhenti berusaha dan lakukan yang terbaik semampu kita,” tuturnya.

Kisah Nadiya menjadi pengingat bahwa keberhasilan akademik bukan hanya hasil kerja keras individu, tetapi juga buah dari doa, pengorbanan, dan dukungan keluarga yang tak pernah putus.

×
Berita Terbaru Update