JAKARTA - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan Asia-Europe Foundation (ASEF) dan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia secara resmi menggelar Asia-Europe Youth Summit on Science and Technology Diplomacy 2026 di Auditorium Gedung B.J. Habibie, Jakarta, pada 19 hingga 24 Oktober 2026. Forum internasional yang mempertemukan 59 profesional muda dari 41 negara Asia dan Eropa ini berlangsung di tengah dinamika industri teknologi global terkait tersedotnya pasokan chip memori dunia ke pusat data (data center) Kecerdasan Artifisial (AI). Penyelenggaraan pertemuan ini menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk memperkuat kedaulatan riset, memperluas jejaring inovasi, serta mendorong transformasi nasional dari sekadar konsumen teknologi menjadi produsen dan mitra inovasi global.
Pertemuan tingkat internasional ini diselenggarakan sebagai bagian dari Asia-Europe Science and Technology Diplomacy Initiative for Young Professionals yang diinisiasi oleh ASEF. Langkah ini menjadi pilar penting dalam menghubungkan keahlian sains, perkembangan teknologi, dan arah kebijakan luar negeri.
Berikut adalah lima fakta dan langkah strategis terkait pelaksanaan diplomasi sains BRIN di tengah krisis rantai pasok teknologi global :
1. Kolaborasi 59 Profesional Muda dari 41 Negara di Gedung B.J. Habibie
Forum diplomasi sains di Jakarta ini menjadi simpul penting kolaborasi riset lintas benua dengan menghadirkan 59 profesional muda terkemuka dari 41 negara Asia dan Eropa. Para peserta berkumpul untuk mendalami keterkaitan antara sains, inovasi, dan perumusan kebijakan internasional. Hasil utama dari forum ini adalah penyusunan dokumen kesepakatan Youth Communiqué bertajuk Youth Perspectives on Asia-Europe Cooperation on Science Diplomacy, yang memuat pandangan serta rekomendasi pemuda untuk dipresentasikan dalam dialog antargenerasi. Dokumen ini menjadi landasan untuk memperluas akses pendanaan riset bersama, pemanfaatan fasilitas laboratorium, serta alih teknologi antarnegara.
2. Menyikapi Disrupsi Chip AI Global dan Kenaikan Harga Perangkat Elektronik
Penyelenggaraan forum internasional ini bertepatan dengan terjadinya tekanan pada rantai pasok perangkat keras teknologi di tingkat konsumen. Laporan industri pada Oktober 2026 mencatat kenaikan harga perangkat telepon pintar (smartphone) hingga rata-rata 15 persen akibat pengalihan kapasitas pabrik semikonduktor dunia untuk memproduksi memori khusus server AI. Kondisi ini menyebabkan pasokan komponen memori untuk perangkat seluler reguler menyusut drastis. Fenomena tersebut menyingkap kerentanan negara-negara berkembang apabila rantai pasok perangkat keras teknologi sepenuhnya dikuasai oleh segelintir korporasi global, sehingga dibutuhkan alih teknologi dan kemitraan riset bahan baku maju melalui diplomasi sains.
3. Hilirisasi Riset untuk Ketahanan Pangan, Energi, dan Kesehatan Dalam forum tersebut, BRIN memfokuskan kerja sama internasional pada empat pilar utama yang berdampak langsung bagi masyarakat, yakni peningkatan produktivitas pertanian untuk ketahanan pangan, transisi energi bersih, kemandirian bahan baku kesehatan, serta pembentukan perusahaan pemula (startup) berbasis teknologi. BRIN menegaskan bahwa tolok ukur keberhasilan riset tidak berhenti pada publikasi ilmiah semata, melainkan harus diwujudkan dalam bentuk produk inovasi yang meningkatkan daya saing industri nasional.
Kepala BRIN, Arif Satria, menekankan pentingnya dampak nyata dari setiap kegiatan penelitian bagi pembangunan ekonomi nasional.
"Ketika hasil riset mampu meningkatkan produktivitas pertanian, memperkuat ketahanan energi, membantu industri berkembang, atau melahirkan usaha berbasis teknologi, di situlah riset memberikan dampak nyata bagi pembangunan," tegas Arif Satria.
3. Melahirkan Generasi Ilmuwan Berwawasan Kebijakan dan Diplomat Berbasis Sains
Guna memperkuat posisi bargaining Indonesia dalam perundingan internasional, BRIN mendorong terciptanya talenta muda yang menguasai lintas disiplin ilmu. Indonesia membutuhkan figur peneliti yang memahami penyusunan kebijakan publik sekaligus korps diplomat yang menguasai peta perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sinergi antardisiplin ini penting agar setiap perjanjian kerja sama internasional menghasilkan manfaat ekonomi dan alih teknologi yang optimal bagi industri dalam negeri.
Kepala BRIN Arif Satria memaparkan kualifikasi generasi muda yang dibutuhkan dalam menghadapi tantangan diplomasi masa depan.
"Kita membutuhkan generasi baru yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga mampu membangun kolaborasi lintas negara dan lintas disiplin. Masa depan diplomasi sains memerlukan ilmuwan yang memahami kebijakan, diplomat yang memahami sains, serta para inovator yang mampu menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan masyarakat dan dunia industri," ungkap Arif Satria.
4. Mendorong Transformasi Indonesia dari Konsumen Menjadi Produsen Inovasi Global
Penunjukan Indonesia sebagai tuan rumah forum internasional ini mempertegas komitmen pemerintah untuk mengubah posisi Indonesia dari sekadar pasar pengguna teknologi menjadi mitra produktif yang menghasilkan solusi inovatif. Melalui jejaring diplomasi sains, BRIN membuka akses terhadap penguasaan ilmu pengetahuan baru, percepatan pengembangan teknologi, serta penciptaan peluang ekonomi baru bagi pelaku usaha nasional.
Kepala BRIN Arif Satria menyampaikan visi strategis Indonesia dalam penutupan keterangannya.
"Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, sains dan teknologi harus menjadi jembatan kerja sama antarnegara. Indonesia memiliki potensi riset dan inovasi yang besar, dan melalui BRIN kita ingin memastikan potensi tersebut tidak hanya berkembang di dalam negeri, tetapi juga menjadi bagian dari solusi global," ujar Arif Satria.
Arif menambahkan bahwa kerja sama internasional harus membawa dampak langsung bagi penguatan kapasitas riset nasional.
"Diplomasi sains harus menghasilkan dampak yang lebih luas daripada sekadar hubungan antarlembaga. Kita ingin kerja sama yang dibangun mampu mempercepat lahirnya inovasi, memperkuat kapasitas nasional, dan menghadirkan solusi bagi persoalan masyarakat," pungkas Arif Satria.
Penyelenggaraan Asia-Europe Youth Summit on Science and Technology Diplomacy 2026 di Jakarta menandai langkah nyata Indonesia dalam membangun kemandirian teknologi nasional di tengah disrupsi rantai pasok global. Penguasaan riset yang diimbangi dengan diplomasi sains yang aktif menjadi kunci utama agar Indonesia dapat mengamankan kebutuhan teknologinya secara mandiri.
Melalui implementasi rekomendasi Youth Communiqué dan tindak lanjut kolaborasi riset berkala, BRIN berkomitmen menjaga agar kemitraan internasional Asia-Eropa terus menghasilkan inovasi terapan. Sinergi antara peneliti, pemerintah, dan pelaku industri diharapkan dapat mempercepat kemandirian teknologi nasional serta memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia.
Penulis Cahya Hafid Abdillah
Editor : Iwan Iwe
