JAKARTA - Bank Indonesia (BI) merampungkan Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan pada Rabu (21/10/2026) guna menetapkan arah suku bunga acuan (BI-Rate) di tengah tingginya dinamika pasar keuangan global. Keputusan moneter yang berpatokan dari posisi awal 5,75 persen ini menjadi kompas utama bagi stabilitas nilai tukar rupiah serta laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sedang berupaya melanjutkan momentum pemulihan teknikal. Langkah strategis bank sentral ini diambil untuk menjaga perbedaan tingkat imbal hasil pasar keuangan domestik agar volatilitas mata uang tetap terkendali dari tekanan eksternal, sekaligus mendorong efektivitas penyaluran kredit perbankan bagi pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal IV-2026.
Penetapan kebijakan moneter oleh bank sentral berlangsung di tengah situasi pasar modal yang berada pada pekan genting. Sebelumnya, IHSG sempat mengalami guncangan hebat dengan terkoreksi hingga -11,57 persen menuju level 5.199,96 pada perdagangan Jumat (16/10/2026), yang mencatatkan penurunan harian terpuruk sejak krisis moneter 1998. Namun, pasar saham domestik berhasil bangkit secara signifikan pada Selasa (20/10/2026) dengan melonjak 5,65 persen ke level 5.278,89 setelah sebelumnya sempat terperosok ke bawah angka psikologis 5.000.
Guna memberikan gambaran yang utuh mengenai situasi perekonomian dan pasar modal nasional hari ini, berikut adalah penjelasan rinci mengenai lima faktor utama yang memengaruhi pergerakan rupiah dan pasar saham domestik:
1. Penentuan Arah Kebijakan Moneter dan Suku Bunga Acuan BI
Bank sentral mencermati pergerakan indikator ekonomi global dan domestik sebelum mengumumkan hasil keputusan Rapat Dewan Gubernur. Di satu sisi, penguatan indeks dolar AS dan ketidakpastian arah suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) menambah beban bagi pergerakan mata uang berkembang. Di sisi lain, dunia usaha di dalam negeri sangat mengharapkan pelonggaran likuiditas agar biaya pinjaman perbankan dapat terjangkau untuk ekspansi bisnis dan pembiayaan konsumsi.
Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menilai bahwa fokus utama otoritas moneter saat ini adalah menahan risiko penarikan dana asing.
"Dalam jangka pendek, Bank Indonesia perlu memperkuat stabilisasi rupiah melalui intervensi pasar valuta asing secara terukur, mengoptimalkan transaksi lindung nilai, serta menjaga kecukupan likuiditas perbankan agar tekanan pasar saham tidak meluas menjadi gangguan stabilitas keuangan," ujar Josua Pardede.
Josua menambahkan bahwa penyesuaian suku bunga dapat menjadi pilihan apabila tekanan mata uang terus berlanjut.
"Sementara itu, kenaikan BI-Rate dari posisi 5,75% sebaiknya dipertimbangkan apabila pelemahan rupiah berlangsung terus-menerus, disertai arus modal keluar yang besar, penurunan cadangan devisa, dan meningkatnya risiko inflasi," tutur Josua Pardede.
2. Ketidakpastian Sentimen Evaluasi Indeks Global MSCI
Pasar keuangan domestik masih dibayangi oleh rencana peninjauan ulang status pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI). MSCI menyoroti persoalan transparansi kepemilikan saham serta kekhawatiran atas konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi (high shareholding concentration). Kekhawatiran akan masuknya Indonesia ke dalam kategori pasar mandiri (standalone market) sempat memicu aksi jual oleh investor asing.
Equity Analyst Mega Capital Sekuritas, Revo Gilang Firdaus, memaparkan besarnya volume penjualan saham oleh pemodal luar negeri.
"Aksi jual asing berpotensi berlanjut dengan YTD: Rp84,85 triliun dengan net foreign sell intraday 16 Oktober 2026 sebesar Rp2,92 triliun," jelas Revo Gilang Firdaus.
Revo menilai pemulihan kepercayaan investor sangat bergantung pada ketegasan pembenahan aturan.
"Katalis pemulihan sentimen dapat dibuktikan dengan perbaikan tata kelola yang terukur dan konsisten, khususnya dalam keterbukaan kepemilikan, penegakan aturan perdagangan, dan akurasi free float," ungkap Revo Gilang Firdaus.
3. Langkah Pembenahan Keterbukaan Informasi oleh Bursa Efek Indonesia
Merespons kecemasan para pelaku pasar modal, Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bergerak cepat menyiapkan rangkaian perbaikan regulasi. Otoritas bursa berkomitmen meningkatkan keterbukaan data pemegang saham serta merencanakan pengecualian bagi saham-saham bersaham terkonsentrasi tinggi dari perhitungan indeks utama. Langkah ini diharapkan dapat meyakinkan MSCI dan investor global bahwa pasar modal Indonesia tetap memiliki tingkat transparansi serta kepastian investasi yang tinggi.
4. Aksi Pembelian Kembali Saham BBCA Sebagai Penahan Tekanan Pasar
Di tengah fluktuasi harga saham sektor keuangan, pelaksanaan aksi pembelian kembali (buyback) saham PT Bank Central Asia Tbk yang berlangsung pada 19 hingga 21 Oktober 2026 memberikan bantalan likuiditas yang penting. Pembelian saham kembali oleh emiten perbankan berkapitalisasi besar ini terbukti mampu meredakan guncangan pada indeks perbankan dan menahan laju penurunan IHSG secara keseluruhan.
5. Proyeksi Pergerakan Teknikal IHSG dan Nilai Tukar Rupiah
Berdasarkan analisis teknikal MNC Sekuritas dalam laporan MNCS Daily Scope Wave, IHSG berpeluang menguji rentang area 5.328 hingga 5.458 dalam jangka pendek selama mampu bertahan di atas level batas bawah (support) 4.915 dan 4.754. Sementara itu untuk nilai tukar rupiah, Bank Permata memperkirakan pergerakan mata uang garuda berpotensi menguat menuju kisaran Rp17.900 hingga Rp18.100 per dolar AS apabila langkah stabilisasi bank sentral dan pembenahan bursa direspons positif oleh pasar.
Perkembangan ekonomi eksternal turut mewarnai pergerakan pasar keuangan nasional pekan ini. Laporan pertumbuhan ekonomi China kuartal III-2026 yang diperkirakan tumbuh 4,6 persen menjadi perhatian penting mengingat posisi negara tersebut sebagai mitra dagang terbesar Indonesia. Di sisi lain, peningkatan inflasi tahunan Amerika Serikat yang menyentuh angka 3,7 persen menjaga harga minyak dunia tetap tinggi, yang pada akhirnya memengaruhi ekspektasi suku bunga global.
Otoritas bursa dan pengamat keuangan mengimbau para investor domestik untuk tidak mengambil keputusan transaksi yang semata-mata didasari oleh kenaikan harian secara emosional. Investor disarankan untuk tetap berpatokan pada fundamental kinerja perusahaan, menjaga kecukupan likuiditas pribadi, serta mencermati secara seksama realisasi kebijakan reformasi pasar modal dan pengumuman resmi dari Bank Indonesia.
Penulis : Cahya Hafid Abdillah
Editor : Iwan Iwe
