SITUBONDO - Di kebun alpukat seluas satu hektare inilah, Mumtazudin, petani asal Situbondo, mengembangkan bibit alpukat bonsai. Alpukat bonsai ini merupakan bibit alpukat berukuran pendek, namun sudah berbunga dan berbuah.
Tingginya hanya sekitar satu hingga satu setengah meter. Meski pendek, buah yang dihasilkan cukup lebat. Beragam jenis alpukat berhasil dikembangkan di kebun Sampean Green Farm atau SGF ini, mulai dari alpukat Aligator, Kelud, hingga Miki.
Ide membuat alpukat bonsai bermula dari permintaan konsumen yang datang ke kebunnya. Banyak warga ingin menanam alpukat di pekarangan rumah yang sempit, namun tetap ingin memiliki tanaman yang cepat berbuah.
Dari sinilah Mumtazudin mulai mencoba memanfaatkan bibit hasil okulasi untuk dikembangkan menjadi alpukat bonsai. Hasilnya pun menarik minat pembeli.
Dalam sehari, ia mengaku bisa menjual sekitar 15 hingga 25 batang alpukat bonsai. Tingginya penjualan ini membuat usaha alpukat bonsai mampu menghasilkan pendapatan hingga jutaan rupiah.
Selain alpukat bonsai, Mumtazudin juga memproduksi bibit alpukat dengan berbagai jenis menggunakan metode okulasi. Bibit yang dijual rata-rata memiliki tinggi satu hingga dua meter.
Dengan bibit yang sudah cukup besar, pembeli diharapkan tidak perlu menunggu terlalu lama untuk menikmati hasilnya. Tanaman alpukat dapat mulai berbuah dalam waktu kurang dari satu setengah tahun setelah ditanam.
Alpukat bonsai kini menjadi peluang usaha menjanjikan, sekaligus memberi pilihan bagi warga yang ingin menanam alpukat di lahan terbatas.
Editor : JTV Jember