JEMBER - Cuaca panas dengan suhu yang tinggi menjadi ancaman serius bagi budi daya tembakau kasturi di Desa Sumber Pinang, Kecamatan Pakusari, Jember.
Kondisi ini membuat banyak tanaman mengalami keriting atau krekok. Bahkan, sebagian lainnya mati sebelum memasuki masa panen.
Tidak hanya itu, serangan hama ulat juga memperparah kondisi tanaman. Daun tembakau tampak berlubang akibat dimakan ulat sehingga berpotensi menurunkan kualitas hasil panen.
Dari total lahan yang dikelola kelompok tani seluas sekitar 51 hektare, diperkirakan sekitar 20 persen tanaman mengalami kerusakan akibat kombinasi cuaca ekstrem dan serangan hama.
Kondisi tersebut dikhawatirkan berdampak pada kualitas daun tembakau setelah proses pengeringan. Tanaman yang keriting menghasilkan mutu daun yang lebih rendah sehingga berpotensi menekan harga jual sekaligus mengurangi jumlah produksi.
Padahal, biaya budi daya tembakau kasturi tergolong tinggi, mencapai sekitar 55 hingga 60 juta rupiah per hektare, termasuk biaya sewa lahan. Dalam kondisi normal, hasil panen tembakau kasturi mampu mencapai sekitar satu setengah hingga dua ton per hektare.
Petani pun diimbau untuk lebih rutin melakukan pengawasan di lahan. Langkah pengendalian hama harus segera dilakukan begitu ditemukan gejala serangan ulat agar kerusakan tidak semakin meluas dan hasil panen tetap dapat dipertahankan.
LUTFI QURROHMAN / JTV